Senin, 29 Agustus 2016

Pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap sikap remaja tentang HIV/AIDS



PENDAHULUAN
Acquired immunedeficiency syndrome atau AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya system kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). (Syafrudin, 2011). Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency virus/HIV yaitu Virus yang memperlemah kekabelan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap inveksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
Di Indonesia, sejak April tahun 1987 telah dilaporkan kasus AIDS yaitu seorang wisatawan belanda yang meninggal di rumah sakit umum Denpasar. Sebagai daerah tujuan kunjungan wisata, kelompok-kelompok masyrakat di daerah wisata yang berprilaku seks tidak aman mempunyai resiko yang lebih besar tercemar infeksi  virus ini. Menurut Komisi Penanggulangan AIDS dalam HIV/AIDS Sekilas Pandang mengatakan bahwa permasalahan yang mengancam kualitas sumber daya manusia adalah timbulnya penyakit yang dikenal dengan nama HIV/AIDS, penyakit yang 20 tahun yang lalu belum dikenal sama sekali, saat ini telah menginfeksi sekitar 60.000.000 orang diseluruh dunia dan lebih dari 21 juta telah meninggal, setiap harinya orang yang terinfeksi bertambah 14.000, separuh dari jumlah itu adalah pemuda yang berusia antara 15 – 24 tahun (Khair bakhrul, 2012). Kementrian kesehatan republik Indonesia melaporkan sejak pertama kali di temukan (1987) sampai dengan September 2012, kasus  HIV/AIDS tersebar di 341 dari 497 kabupaten/Kota di seluruh (33) provensi di Indonesia. Kasus HIV, dari Juli sampai dengan September 2012 jumlah kasus baru HIV yang dilaporkan sebanyak 5.489 kasus.Presentase faktor resiko AIDS tertinggi adalah hubungan seks  tidak aman pada heteroseksual (81,9%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada pena suntik (7,2%), dari ibu (positif HIV) ke anak  (4,6%) dan LSL (2,8%) (Basuki, 2012)
Kurangnya informasi dan pengetahuan seorang dapat berdampak terhadap sikap. Pengetahuan yang tinggi dapat mempengaruhi seseorang bersikap positif. Sebaliknya pengetahuan yang kurang dapat mempengaruhi seseorang bersikap negative. Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek (Notoadmojo, 2002)

METODELOGI PENELITIAN
Desain penelitian adalah sesuatu yang vital dalam penelitian yang memungkinkan memaksimalkan suatu kontrol beberapa faktor yang bisa mempengaruhi validiti suatu hasil. Desain riset sebagai petunjuk peneliti dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab suatu pertanyaan (Nursalam, 2013).
Desain yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah one-group pre test post test, yaitu rancangan atau desain yang tidak ada kelompok pembanding (control), tetapi paling tidak sudah dilakukan observasi pertama (pre test) yang memunginkan peneliti dapat menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya program (dalam hal ini penyuluhan). Sedangkan pendekatan yang digunakan peneliti adalah pendekatan “one shot model”, dimana dalam waktu yang bersamaan peneliti mengadakan pre test, penyuluhan, post test tentang penyuluhan kesehatan HIV/AIDS (Nursalam, 2013). Prosedur Pra eksperimental meliputi.
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Nursalam, 2013). Pada penelitian ini populasinya adalah Siswa Di SMK Patriot Desa Mancar  Kabupaten Jombang dengan jumlah 181 Siswa.
Sampel adalah sebagian yang diambil dari obyek keseluruhan yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Nursalam 2013). Sampel pada penelitian ini 30 siswa SMK Patriot.
Sampling merupakan suatu proses dalam menyeleksi sampel yang digunakan dalam penelitian (Hidayat, 2010). Sampling merupakan suatu proses menyeleksi dari populasi untuk dapat mewakili. Pengambilan sampling dalam penelitian ini adalah probability sampling dengan jenis random Sampling yaitu pengambilan sampel secara acak dengan cara diundi jadi setiap anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel.
Variabel independen adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono, 2011:4). Variabel independen dalam penelitian ini adalah Penyuluhan kesehatan  HIV/AIDS.
            Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (sugiyono, 2011:4). Variabel dalam penelitian ini adalah sikap remaja tentang HIV/AIDS.
Instrumen adalah alat ukur pengumpulan data (Hidayat, 2010). Instrumen yang digunakan untuk sebelum diberi penyuluhan HIV/AIDS adalah Kuesioner sedangkan untuk setelah diberi penyuluhan HIV/AIDS kuesioner.
Penelitian ini dilakukan di SMK Patriot desa Mancar Peterongan Jombang pada bulan Mei 2016.
Setelah data terkumpul maka dilakukan pengolahan data kemudian dianilisis, pengolahan data terdiri 5 langkah : editing, coding, scoring, transferring dan tabulating
            Setelah melakukan pengumpulan dan pengolahan data kemudian data yang diperolehdilakukan analisa data dengan maksud mengetahui pengaruh pada variabel. Untuk mengetahui pengaruh tersebut maka dilakukan uji dengan Wilcoxon

HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Umum
No
Jenis Kelamin
Jumlah
Persentase (%)
1.
Laki-Laki
16
53.3
2.
Perempuan
14
56.7

Total
30
100.0
Tabel 5.1        Karakteristik Responden Berdasarkan Umur di SMK Patriot Desa Mancar kecamatan Peterongan tanggal 07 Mei 2016
No
Umur
Jumlah
Persentase (%)
1.
16-17 tahun
24
80.0
2.
> 17 Tahun
6
20.0

Total
30
100.0
      Sumber Data: Primer, 2016
            Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa lebih dari separuhnya responden berumur 16-17  tahun sebanyak 24 orang (80%).

Tabel 5.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Kelas di SMK Patriot Desa Mancar kecamatan Peterongan tanggal 07 Mei 2016
No
Kelas
Jumlah
Persentase (%)
1.
Klas 1
15
50.0
2.
Kelas 2
15
50.0
3.
Kelas 3
0
0

Total
30
100.0
        Sumber Data: Primer, 2016
Berdasarkan tabel 5.2 dapat menunjukkan kelas 1 dan kelas 2 sama-sama 15 orang (50%).







Tabel 5.3         Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di SMK Patriot Desa Mancar Kec. Peterongan Kab. Jombang
Sumber Data: Primer, 2016
Berdasarkan tabel 5.3 dapat menunjukkan bahwa lebih dari separuhnya responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 16 orang (53.3%).

Tabel 5.4        Karakteristik Responden Berdasarkan Lingkungan mendukung atau tidak mendukung di SMK Patriot Desa Mncar Ke.Peterongan Kab. Jombang
No
Lingkungan
Jumlah
Persentase (%)
1.
Mendukung
28
84.8
2.
Tidak mendukung
2
6.1

Total
30
90.9
      Sumber Data: Primer, 2016
Berdasarkan tabel 5.4 dapat menunjukkan bahwa lebih dari separuhnya responden Lingkungannya mendukung sebanyak 28 orang (84.8%).






Tabel 5.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Sosial Ekonomi di SMK Di SMK Patriot Desa Mancar Kab.Jombang
No
Sosial Ekonomi
Jumlah
Persentase (%)
1.
< 1.924.000
3
10.0
2.
>1.924.000
27
90.0

Total
30
100.0
Sumber Data: Primer, 2016
Berdasarkan tabel 5.5 dapat menunjukkan bahwa hampir seluruh responden memiliki sosial ekonomi > 1.924.000 sebanyak 27 orang (90.0%).

Data khusus 

1.   Sikap remaja tentang HIV/AIDS Di SMK Patriot Desa Mancar Kecamatan Peterongan, sebelum penyuluhan










Gambar 5.1     Karakteristik sikap  remaja tentang HIV/AIDS sebelum penyuluhan di SMK Patriot Desa Mancar kec. Peterongan Kab. Jombang, 2016.
Berdasarkan gambar 5.1 menunjukkan bahwa sebagian besar sikap remaja tentang HIV/AIDS sebelum penyuluhan adalah negatif sebanyak 16 responden (53,3 %) dan sebagian kecil positif  sebanyak 14 responden  (46,7 %).

1.   Sikap remaja tentang HIV/AIDS Di SMK Patriot Desa Mancar Kecamatan Peterongan, sesudah penyuluhan
                       









Gambar 5.2     Karakteristik sikap  remaja tentang HIV/AIDS sesudah penyuluhan di SMK Patriot Desa Mancar kec. Peterongan Kab. Jombang, 2016.
Berdasarkan gambar 5.2 menunjukkan bahwa sebagian besar sikap remaja tentang HIV/AIDS sesudah penyuluhan adalah Positif sebanyak 19 responden (63,3 %) dan sebagian kecil positif  sebanyak 11 Responden (36,7 %).











Tabel 5.6  Pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap sikap remaja tentang    HIV/AIDS di SMK Patriot Desa Mancar Kec. Peterongan Kab. Jombang
Sikap remaja tentang HIV/AIDS
Penyuluhan tentang HIV/AIDS
Sebelum
Sesudah
f
%
f
%
Positif
14
46,7
19
63,3
Negatif
16
53,3
11
36,7
Total
30
100,0
30
100,0
   Sumber Data: Primer, 2016
  Berdasarkan tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 16 (53,3 %) responden sebelum dilakukan penyuluhan memiliki sikap negatif berubah menjadi 11(36,7) responden sesudah dilakukan penyuluhan.

Tabel 5.7 Analisa data Uji Wilcoxon Signed Ranks Test

Test Statisticsb

Sikap remaja  sesudah penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS - Sikap remaja  sebelum penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS
Z
-4.786a
Asymp. Sig. (2-tailed)
.000
a. Based on positive ranks.
b. Wilcoxon Signed Ranks Test

            Hasil SPPS menggunakan uji Wilcoxon didapatkan p = 0,000 < 0,05 maka H1 diterima atau Ho ditolak artinya ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMK Patriot Peterongan Jombang

PEMBAHASAN
Pada bagian ini akan dibahas hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti.
5.2.1        Sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMK Patriot Desa Mancar sebelum penyuluhan
Berdasarkan gambar 5.1 menunjukkan bahwa sebagian besar sikap remaja tentang HIV/AIDS sebelum penyuluhan adalah negatif sebanyak 16 responden (53,3 %) dan sebagian kecil positif  sebanyak 14 responden  (46,7 %).
Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek  (Notoatmodjo, 2007: 124). Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulasi tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi adalah predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek di lingkungan  tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek (Notoatmodjo, 2007: 124-125).
Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercaya oleh individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotype yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan (opini), terutama menyangkut masalah suatu problem yang controversial banyak factor yang mempengaruhi  sikap diantaranya jenis kelamin, keturunan, kepribadian, pendidikan, lingkungan dan lain-lain.
Dengan sikap yang negatif responden diharapkan lebih aktif dan lebih sering dilakukan  penyuluhan agar  dapat mengurangi dan mencegah sikap yang negative. Sikap responden sebelum penyuluhan dipengaruhi oleh kurangnya  dilakukan penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS. Langkah untuk menanggulangi hal ini para remaja harus mempunyai sikap yang positif terhadap HIV/AIDS dan selalu mengikuti kegiatan- kegiatan yang memberikan masukan serta pola pikir yang realistis terhadap HIV/AIDS, disamping itu lingkungan serta pengawasan dari orang tua sangat  berperan penting untuk menjaga para remaja agar tidak terjerumus kedalam pergaulan bebas.
5.2.2        Sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMK Patriot Desa Mancar sesudah penyuluhan
Berdasarkan gambar 5.2 menunjukkan bahwa sebagian besar sikap remaja tentang HIV/AIDS sesudah penyuluhan adalah Positif sebanyak 19 responden (63,3 %) dan sebagian kecil positif  sebanyak 11 Responden (36,7 %).
Penyuluhan kesehatan adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui tekhnik praktek belajar atau instruksi dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi perilaku manusia secara individu, kelompok maupun masyarakat untuk dapat lebih mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat (Syafrudin, 2010). Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagi kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya  dan melakukan apa yang bisa dilakukan secara perseorangan, secara perseorangan maupun secara kelompok dengan meminta pertolongan (Effendy, 2008).
Penyuluhan yang disampaikan peneliti direspon baik oleh responden disamping mendengarkan dengan seksama responden juga banyak bertaya tentang HIV/AIDS sehingga menyebabkan responden mengalami perubahan sikap positif, semakin responden banyak bertanya kepada peneliti maka semakin matang responden dalam menyikapi HIV/AIDS. Perubahan Sikap yang relatif rendah di karenakan siswa kurangnya dilakukan penyuluhan yang dilaksanakan hanya 1 kali.
5.2.3        Pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMK Patriot kec. Peterongan Kab. Jombang.
Berdasarkan tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 16 (53,3 %) responden sebelum dilakukan penyuluhan memiliki sikap negatif berubah menjadi 11 (36,7) responden sesudah dilakukan penyuluhan
Hasil SPPS menggunakan uji Wilcoxon didapatkan p = 0,000 < 0,05 maka H1 diterima atau Ho ditolak artinya ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMK Patriot Peterongan Jombang.
Penyuluhan kesehatan adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui tekhnik praktek belajar atau instruksi dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi perilaku manusia secara individu, kelompok maupun masyarakat untuk dapat lebih mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat (Syafrudin, 2010). Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagi kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya  dan melakukan apa yang bisa dilakukan, secara perseorangan, secara perseorangan maupun secara kelompok dengan meminta pertolongan (Effendy, 2008). Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek  (Notoatmodjo, 2007: 124). Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulasi tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi adalah predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek di lingkungan  tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek (Notoatmodjo, 2007: 124-125).
Dengan adanya penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS pastilah mempengaruhi sikap remaja dalam menyikapi hal-hal yang berhubungan dengan HIV/AIDS. Apabila remaja tidak mendapatkan penyuluhan HIV/AIDS yang baik  maka remaja itu akan masuk ke dalam pergaulan bebas, dan didalam pergaulan bebas ini akan mengantarkan remaja pada kegiatan menyimpang seperti seks bebas, narkoba maka akan terjadi lebih banyak yang akan terkena HIV/AIDS .
             Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS  terbukti berhasil diterapkan pada subjek. Hal ini bisa dilihat dari hasil pemberian pre-test dan post-test yang memiliki perbedaan. Hasil tersebut memberi kesimpulan bahwa terjadi perubahan sikap remaja yang baik setelah diberikan penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
       Berdasarkan hasil penelitian dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut :
6.1.1 sikap remaja tentang HIV/AIDS sebelum penyuluhan adalah negatif sebanyak 16 responden (53,3 %) dan sebagian kecil positif  sebanyak  14 responden  (46,7 %).
6.1.2 sikap remaja tentang HIV/AIDS sesudah penyuluhan adalah Positif sebanyak 19 responden (63,3 %) dan sebagian kecil positif  sebanyak 11 Responden (36,7 %).
6.1.3 ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMK Patriot Peterongan Jombang.yang dibuktikan dari hasil uji Wilcoxon didapatkan p = 0,000 < 0,05.
SARAN
6.2.1  Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan wacana kepustakaan, juga dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.
6.2.2  Bagi profesi keperawatan
Diharapkan penelitian ini memberikan masukan bagi profesi dalam mengembangkan perencanaan keperawatan lebih lanjut dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan.
6.2.3  Bagi peneliti selanjutnya
Bagi  peneliti selanjutnya supaya meneliti faktor-faktor yang lain seperti pengetahuan remaja dan peran lingkungan terhadap sikap remaja.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar. (2007). Sistem kesehatan. Jakarta:EGC
Agung, S. Dyah, L. (2010). Jurnal Faktor –faktor Resiko Penularan HIV/AIDS mandala of   health volume 4 Nomor 2. http://www.kedokteran.unsoed.ac.id
Arikunto, (2010). Metode Penelitian untuk Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Azzahy, (2008). Komponen Sikap dan Perilaku. Jogjakarta: Graha Ilmu: CV. Trans info media

Brunner, Suddarth, (2007). Pengembangan pengetahuan penyakit infeksi HIV dan AIDS.  HIV dan AIDS pendekatan biologi molekuler, klinis, dan sosial. Surabaya ; Airlangga University Press 

Widodo wahyu AD. 2007. Pedoman Nasional Perawatan, dukungan dan Pengobatan bagi ODHA untuk Petugas Kesehatan dan Petugas lainnya, Dirgen Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Effendy . 2008.  Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, Edisi 2. EGC. Jakarta
Hidayat. 2010. Metodologi Penelitian. Jakarta : Bumu Akasara
Khair bakhrul. 2012. Konsep Dasar dan penanggulangan HIV/AIDS
Kementrian kesehatan Kepublik indonesia (2012). Perkemangan HIV-AIDS di Indonesia Triwulan III Tahun 2012. http://www.depkes.go.id
Komisi Penanggulangan AIDS Jawa Timur, 2013. Situasi HIV/AIDS Provinsi Jawa Timur 2013. http://www. Kominfo.Jatimprov.go.id
Major. Dkk, (2010), Ilmu yang mempelajri sikap kepribadian manusia. Jakarta: EGC
Nazir. (2010). Ilmu Statistis SPSS. Bandung Alfabeta
Notoadmodjo, S (2007). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Nursalam, (2011), Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Surabaya : Salemba Medika

Niven, (2008). Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku. Jogjakarta: Graha Ilmu: CV. Trans info media

Padila, (2012).  Buku ajar : Keperawatan Medikal Bedah. Bengkulu: haiki
Pandora Press. 2009. Pendidikan Tentang HIV/AIDS. Jakarta. EGC
Potter, Patricia. A (2005). Perbandingan respon imunologi empat kombinasi antiretroviral berdasarkan kenaikan jumlah CD4.
Ratnawati DD, 2010 Pengaruh Penyuluhan Terhadap Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang HIV/AIDS Wilayah Pendukuhan Daleman Gilangharjo Pandak bantul Yogyakarta
Setiadi., (2012).  Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha ilmu.
Syafrudin, (2011).  Himpunan penyuluhan kesehatan. Jakarata timur

Sugiono, 2009. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,   Dan R & D). Bandung: Penerbit Alfabeta
Wilson L,  2005 AIDS Untuk Dikenali Bukan Untuk Dihindari,  Jakarta
Zulkifli, (2014).  Kewaspadaan universal dalam menangani penderita HIV/AIDS. Jogjakarta : D-medika ; 2014