PENDAHULUAN
Acquired immunedeficiency syndrome atau AIDS adalah sekumpulan
gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya system kekebalan
tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip
yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). (Syafrudin, 2011). Virusnya
sendiri bernama Human Immunodeficiency
virus/HIV yaitu Virus yang memperlemah kekabelan pada tubuh manusia. Orang
yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap inveksi oportunistik
ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat
memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa
disembuhkan.
Di Indonesia, sejak April tahun
1987 telah dilaporkan kasus AIDS yaitu seorang wisatawan belanda yang meninggal
di rumah sakit umum Denpasar. Sebagai daerah tujuan kunjungan wisata,
kelompok-kelompok masyrakat di daerah wisata yang berprilaku seks tidak aman
mempunyai resiko yang lebih besar tercemar infeksi virus ini. Menurut Komisi
Penanggulangan AIDS dalam HIV/AIDS Sekilas Pandang mengatakan bahwa
permasalahan yang mengancam kualitas sumber daya manusia adalah timbulnya
penyakit yang dikenal dengan nama HIV/AIDS, penyakit yang 20 tahun yang lalu
belum dikenal sama sekali, saat ini telah menginfeksi sekitar 60.000.000 orang
diseluruh dunia dan lebih dari 21 juta telah meninggal, setiap harinya orang
yang terinfeksi bertambah 14.000, separuh dari jumlah itu adalah pemuda yang
berusia antara 15 – 24 tahun (Khair bakhrul, 2012). Kementrian
kesehatan republik Indonesia melaporkan sejak pertama kali di temukan (1987)
sampai dengan September 2012, kasus
HIV/AIDS tersebar di 341 dari 497 kabupaten/Kota di seluruh (33)
provensi di Indonesia. Kasus HIV, dari Juli sampai dengan September 2012 jumlah
kasus baru HIV yang dilaporkan sebanyak 5.489 kasus.Presentase faktor resiko
AIDS tertinggi adalah hubungan seks
tidak aman pada heteroseksual (81,9%), penggunaan jarum suntik tidak
steril pada pena suntik (7,2%), dari ibu (positif HIV) ke anak (4,6%) dan LSL (2,8%) (Basuki, 2012)
Kurangnya
informasi dan pengetahuan seorang dapat berdampak terhadap sikap. Pengetahuan
yang tinggi dapat mempengaruhi seseorang bersikap positif. Sebaliknya
pengetahuan yang kurang dapat mempengaruhi seseorang bersikap negative. Sikap merupakan reaksi atau
respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek
(Notoadmojo, 2002)
METODELOGI
PENELITIAN
Desain
penelitian adalah sesuatu yang vital dalam penelitian yang memungkinkan
memaksimalkan suatu kontrol beberapa faktor yang bisa mempengaruhi validiti
suatu hasil. Desain riset sebagai petunjuk peneliti dalam perencanaan dan
pelaksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab suatu
pertanyaan (Nursalam, 2013).
Desain yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah
one-group pre test post test, yaitu
rancangan atau desain yang tidak ada kelompok pembanding (control), tetapi
paling tidak sudah dilakukan observasi pertama (pre test) yang memunginkan
peneliti dapat menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya program
(dalam hal ini penyuluhan). Sedangkan pendekatan yang digunakan peneliti adalah
pendekatan “one shot model”, dimana dalam waktu yang bersamaan peneliti
mengadakan pre test, penyuluhan, post test tentang penyuluhan kesehatan
HIV/AIDS (Nursalam, 2013). Prosedur Pra eksperimental meliputi.
Populasi adalah
keseluruhan subjek penelitian (Nursalam, 2013). Pada penelitian ini populasinya
adalah Siswa Di SMK Patriot Desa Mancar
Kabupaten Jombang dengan jumlah 181 Siswa.
Sampel adalah sebagian yang diambil dari obyek keseluruhan yang
diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Nursalam 2013). Sampel pada penelitian ini 30 siswa SMK Patriot.
Sampling
merupakan suatu proses dalam menyeleksi sampel yang digunakan dalam penelitian
(Hidayat, 2010). Sampling merupakan suatu proses menyeleksi dari populasi untuk
dapat mewakili. Pengambilan sampling dalam penelitian ini adalah probability sampling dengan jenis random Sampling yaitu pengambilan
sampel secara acak dengan cara diundi jadi setiap anggota populasi mempunyai
kesempatan yang sama untuk menjadi sampel.
Variabel
independen adalah merupakan
variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono, 2011:4).
Variabel independen dalam penelitian ini adalah Penyuluhan kesehatan
HIV/AIDS.
Variabel
dependen merupakan
variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel
bebas (sugiyono, 2011:4). Variabel dalam penelitian ini adalah sikap remaja tentang HIV/AIDS.
Instrumen adalah alat ukur pengumpulan
data (Hidayat,
2010). Instrumen yang digunakan untuk
sebelum diberi penyuluhan HIV/AIDS adalah Kuesioner
sedangkan untuk setelah diberi penyuluhan HIV/AIDS kuesioner.
Penelitian ini dilakukan
di SMK Patriot desa Mancar Peterongan Jombang pada bulan Mei 2016.
Setelah data terkumpul
maka dilakukan pengolahan data kemudian dianilisis, pengolahan data terdiri 5
langkah : editing, coding, scoring,
transferring dan tabulating
Setelah
melakukan pengumpulan dan pengolahan data kemudian data yang diperolehdilakukan
analisa data dengan maksud mengetahui pengaruh pada variabel. Untuk mengetahui
pengaruh tersebut maka dilakukan uji dengan
Wilcoxon
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Umum
|
No
|
Jenis Kelamin
|
Jumlah
|
Persentase
(%)
|
|
1.
|
Laki-Laki
|
16
|
53.3
|
|
2.
|
Perempuan
|
14
|
56.7
|
|
|
Total
|
30
|
100.0
|
Tabel 5.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
di SMK Patriot Desa Mancar kecamatan
Peterongan tanggal 07 Mei 2016
|
No
|
Umur
|
Jumlah
|
Persentase (%)
|
|
1.
|
16-17 tahun
|
24
|
80.0
|
|
2.
|
> 17 Tahun
|
6
|
20.0
|
|
|
Total
|
30
|
100.0
|
Sumber Data: Primer, 2016
Berdasarkan tabel
5.1 menunjukkan bahwa lebih dari separuhnya responden berumur 16-17 tahun
sebanyak 24 orang (80%).
Tabel 5.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Kelas di
SMK Patriot Desa Mancar kecamatan
Peterongan tanggal 07 Mei 2016
|
No
|
Kelas
|
Jumlah
|
Persentase (%)
|
|
1.
|
Klas 1
|
15
|
50.0
|
|
2.
|
Kelas 2
|
15
|
50.0
|
|
3.
|
Kelas 3
|
0
|
0
|
|
|
Total
|
30
|
100.0
|
Sumber Data: Primer, 2016
Berdasarkan tabel 5.2 dapat menunjukkan kelas 1 dan kelas 2
sama-sama 15 orang (50%).
Tabel 5.3 Karakteristik
Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di SMK Patriot Desa Mancar Kec.
Peterongan Kab. Jombang
Sumber Data: Primer, 2016
Berdasarkan tabel 5.3 dapat menunjukkan bahwa lebih
dari separuhnya responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 16 orang
(53.3%).
Tabel 5.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Lingkungan mendukung atau tidak mendukung di SMK
Patriot Desa Mncar Ke.Peterongan Kab. Jombang
|
No
|
Lingkungan
|
Jumlah
|
Persentase
(%)
|
|
1.
|
Mendukung
|
28
|
84.8
|
|
2.
|
Tidak
mendukung
|
2
|
6.1
|
|
|
Total
|
30
|
90.9
|
Sumber Data: Primer, 2016
Berdasarkan tabel 5.4 dapat menunjukkan bahwa lebih
dari separuhnya responden Lingkungannya mendukung sebanyak 28 orang (84.8%).
Tabel 5.5 Karakteristik Responden
Berdasarkan Sosial Ekonomi di SMK Di
SMK Patriot Desa Mancar Kab.Jombang
|
No
|
Sosial Ekonomi
|
Jumlah
|
Persentase (%)
|
|
1.
|
< 1.924.000
|
3
|
10.0
|
|
2.
|
>1.924.000
|
27
|
90.0
|
|
|
Total
|
30
|
100.0
|
Sumber Data: Primer, 2016
Berdasarkan tabel 5.5 dapat menunjukkan bahwa hampir
seluruh responden memiliki sosial ekonomi > 1.924.000 sebanyak 27 orang
(90.0%).
Data
khusus
1.
Sikap remaja tentang HIV/AIDS Di SMK Patriot Desa
Mancar Kecamatan Peterongan, sebelum penyuluhan
Gambar 5.1 Karakteristik
sikap remaja tentang HIV/AIDS sebelum
penyuluhan di SMK Patriot Desa Mancar kec. Peterongan Kab. Jombang, 2016.
Berdasarkan gambar 5.1 menunjukkan bahwa sebagian besar sikap remaja
tentang HIV/AIDS sebelum penyuluhan adalah negatif sebanyak 16 responden (53,3
%) dan sebagian kecil positif sebanyak
14 responden (46,7 %).
1.
Sikap remaja tentang HIV/AIDS Di SMK Patriot Desa
Mancar Kecamatan Peterongan, sesudah penyuluhan
Gambar
5.2 Karakteristik sikap remaja tentang HIV/AIDS sesudah penyuluhan di
SMK Patriot Desa Mancar kec. Peterongan Kab. Jombang, 2016.
Berdasarkan gambar 5.2 menunjukkan bahwa sebagian besar sikap remaja
tentang HIV/AIDS sesudah penyuluhan adalah Positif sebanyak 19 responden (63,3
%) dan sebagian kecil positif sebanyak
11 Responden (36,7 %).
Tabel 5.6
Pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMK Patriot Desa Mancar Kec.
Peterongan Kab. Jombang
|
Sikap
remaja tentang HIV/AIDS
|
Penyuluhan
tentang HIV/AIDS
|
|||
|
Sebelum
|
Sesudah
|
|||
|
f
|
%
|
f
|
%
|
|
|
Positif
|
14
|
46,7
|
19
|
63,3
|
|
Negatif
|
16
|
53,3
|
11
|
36,7
|
|
Total
|
30
|
100,0
|
30
|
100,0
|
Sumber Data: Primer, 2016
Berdasarkan tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari
16 (53,3 %) responden sebelum dilakukan penyuluhan memiliki sikap negatif
berubah menjadi 11(36,7) responden sesudah dilakukan penyuluhan.
Tabel 5.7 Analisa data Uji Wilcoxon Signed Ranks Test
|
Test Statisticsb
|
|
|
|
Sikap remaja sesudah penyuluhan kesehatan tentang
HIV/AIDS - Sikap remaja sebelum
penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS
|
|
Z
|
-4.786a
|
|
Asymp. Sig.
(2-tailed)
|
.000
|
|
a. Based on positive
ranks.
|
|
|
b. Wilcoxon Signed Ranks
Test
|
|
Hasil
SPPS menggunakan uji Wilcoxon didapatkan
p = 0,000 < 0,05 maka H1 diterima
atau Ho ditolak artinya ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap sikap remaja
tentang HIV/AIDS di SMK Patriot Peterongan Jombang
PEMBAHASAN
Pada bagian ini akan dibahas hasil penelitian
sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti.
5.2.1
Sikap remaja tentang
HIV/AIDS di SMK Patriot Desa Mancar sebelum penyuluhan
Berdasarkan gambar 5.1 menunjukkan
bahwa sebagian besar sikap remaja tentang HIV/AIDS sebelum penyuluhan adalah
negatif sebanyak 16 responden (53,3 %) dan sebagian kecil positif sebanyak 14 responden (46,7 %).
Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang
masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2007: 124). Sikap secara nyata
menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulasi tertentu yang
dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap
stimulus sosial. Newcomb, salah
seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan
atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu.
Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi adalah
predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi
tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap
merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap
obyek (Notoatmodjo, 2007: 124-125).
Komponen kognitif merupakan representasi apa yang
dipercaya oleh individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotype yang dimiliki individu
mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan (opini), terutama menyangkut
masalah suatu problem yang controversial banyak factor yang mempengaruhi sikap diantaranya jenis kelamin, keturunan,
kepribadian, pendidikan, lingkungan dan lain-lain.
Dengan sikap yang negatif responden diharapkan lebih
aktif dan lebih sering dilakukan
penyuluhan agar dapat mengurangi
dan mencegah sikap yang negative. Sikap responden sebelum penyuluhan
dipengaruhi oleh kurangnya dilakukan
penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS. Langkah untuk
menanggulangi hal ini para remaja harus mempunyai sikap yang positif terhadap
HIV/AIDS dan selalu mengikuti kegiatan- kegiatan yang memberikan masukan serta
pola pikir yang realistis terhadap HIV/AIDS, disamping itu lingkungan serta pengawasan
dari orang tua sangat berperan penting
untuk menjaga para remaja agar tidak terjerumus kedalam pergaulan bebas.
5.2.2
Sikap remaja tentang
HIV/AIDS di SMK Patriot Desa Mancar sesudah penyuluhan
Berdasarkan gambar 5.2 menunjukkan bahwa sebagian besar sikap remaja
tentang HIV/AIDS sesudah penyuluhan adalah Positif sebanyak 19 responden (63,3
%) dan sebagian kecil positif sebanyak
11 Responden (36,7 %).
Penyuluhan
kesehatan adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui tekhnik
praktek belajar atau instruksi dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi
perilaku manusia secara individu, kelompok maupun masyarakat untuk dapat lebih
mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat (Syafrudin, 2010). Penyuluhan kesehatan adalah
gabungan berbagi kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip
belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau
masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya dan melakukan apa yang bisa dilakukan secara perseorangan, secara
perseorangan maupun secara kelompok dengan meminta pertolongan (Effendy, 2008).
Penyuluhan yang disampaikan peneliti direspon baik
oleh responden disamping mendengarkan dengan seksama responden juga banyak
bertaya tentang HIV/AIDS sehingga menyebabkan responden mengalami perubahan
sikap positif, semakin responden banyak bertanya kepada peneliti maka semakin
matang responden dalam menyikapi HIV/AIDS. Perubahan Sikap yang relatif rendah
di karenakan siswa kurangnya dilakukan penyuluhan yang dilaksanakan hanya 1
kali.
5.2.3
Pengaruh penyuluhan kesehatan
terhadap sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMK Patriot kec. Peterongan Kab.
Jombang.
Berdasarkan
tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 16 (53,3 %) responden sebelum dilakukan
penyuluhan memiliki sikap negatif berubah menjadi 11 (36,7) responden sesudah
dilakukan penyuluhan
Hasil
SPPS menggunakan uji Wilcoxon didapatkan
p = 0,000 < 0,05 maka H1 diterima
atau Ho ditolak artinya ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap sikap remaja
tentang HIV/AIDS di SMK Patriot Peterongan Jombang.
Penyuluhan
kesehatan adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui tekhnik
praktek belajar atau instruksi dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi
perilaku manusia secara individu, kelompok maupun masyarakat untuk dapat lebih
mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat (Syafrudin, 2010). Penyuluhan kesehatan adalah
gabungan berbagi kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip
belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau
masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya dan melakukan apa yang bisa dilakukan, secara
perseorangan, secara perseorangan maupun secara kelompok dengan meminta pertolongan
(Effendy, 2008). Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek
(Notoatmodjo, 2007: 124). Sikap secara nyata
menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulasi tertentu yang
dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap
stimulus sosial. Newcomb, salah
seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan
atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu.
Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi adalah
predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi
tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap
merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap
obyek (Notoatmodjo, 2007: 124-125).
Dengan adanya penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS pastilah mempengaruhi sikap remaja dalam menyikapi
hal-hal yang berhubungan dengan HIV/AIDS. Apabila remaja tidak
mendapatkan penyuluhan HIV/AIDS yang baik maka remaja itu akan masuk ke dalam pergaulan
bebas, dan didalam pergaulan bebas ini akan mengantarkan remaja pada kegiatan
menyimpang seperti seks bebas, narkoba maka
akan terjadi lebih banyak yang akan terkena HIV/AIDS .
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa
penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS
terbukti berhasil diterapkan pada subjek. Hal ini bisa dilihat dari
hasil pemberian pre-test dan post-test yang memiliki perbedaan. Hasil
tersebut memberi kesimpulan bahwa terjadi perubahan sikap remaja yang baik
setelah diberikan penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut :
6.1.1 sikap remaja tentang HIV/AIDS sebelum penyuluhan
adalah negatif sebanyak 16 responden (53,3 %) dan sebagian kecil positif sebanyak 14 responden
(46,7 %).
6.1.2 sikap remaja tentang HIV/AIDS sesudah penyuluhan
adalah Positif sebanyak 19 responden (63,3 %) dan sebagian kecil positif sebanyak 11 Responden (36,7 %).
6.1.3
ada pengaruh penyuluhan
kesehatan terhadap sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMK Patriot Peterongan
Jombang.yang dibuktikan dari hasil uji Wilcoxon
didapatkan p = 0,000 < 0,05.
SARAN
6.2.1
Bagi institusi pendidikan
Hasil
penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan wacana kepustakaan, juga
dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.
6.2.2 Bagi profesi keperawatan
Diharapkan penelitian ini memberikan masukan bagi
profesi dalam mengembangkan perencanaan keperawatan lebih lanjut dalam upaya
meningkatkan mutu pelayanan.
6.2.3 Bagi peneliti selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya supaya meneliti
faktor-faktor yang lain seperti pengetahuan remaja dan peran lingkungan
terhadap sikap remaja.
DAFTAR PUSTAKA
Azwar. (2007).
Sistem kesehatan. Jakarta:EGC
Agung, S. Dyah,
L. (2010). Jurnal Faktor –faktor Resiko
Penularan HIV/AIDS mandala of health
volume 4 Nomor 2. http://www.kedokteran.unsoed.ac.id
Arikunto, (2010).
Metode Penelitian untuk Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika
Azzahy, (2008). Komponen Sikap dan
Perilaku. Jogjakarta: Graha Ilmu: CV. Trans info
media
Brunner,
Suddarth, (2007). Pengembangan pengetahuan penyakit infeksi HIV dan AIDS. HIV dan AIDS pendekatan biologi molekuler,
klinis, dan sosial. Surabaya ; Airlangga University Press
Widodo wahyu AD. 2007.
Pedoman Nasional Perawatan, dukungan dan
Pengobatan bagi ODHA untuk Petugas Kesehatan dan Petugas lainnya, Dirgen
Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan
RI, Jakarta
Effendy . 2008. Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat,
Edisi 2. EGC. Jakarta
Hidayat. 2010. Metodologi
Penelitian. Jakarta : Bumu Akasara
Khair bakhrul. 2012. Konsep Dasar dan penanggulangan HIV/AIDS
Kementrian
kesehatan Kepublik indonesia (2012).
Perkemangan HIV-AIDS di Indonesia Triwulan III Tahun 2012. http://www.depkes.go.id
Komisi
Penanggulangan AIDS Jawa Timur, 2013. Situasi
HIV/AIDS Provinsi Jawa Timur 2013. http://www.
Kominfo.Jatimprov.go.id
Major. Dkk, (2010), Ilmu yang mempelajri sikap kepribadian
manusia. Jakarta: EGC
Nazir. (2010). Ilmu
Statistis SPSS. Bandung Alfabeta
Notoadmodjo, S
(2007). Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Nursalam, (2011), Konsep dan
Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Surabaya : Salemba Medika
Niven, (2008). Pengukuran
Pengetahuan, Sikap dan Perilaku. Jogjakarta: Graha Ilmu: CV. Trans info
media
Padila,
(2012). Buku ajar : Keperawatan Medikal Bedah. Bengkulu: haiki
Pandora Press.
2009. Pendidikan Tentang HIV/AIDS. Jakarta. EGC
Potter, Patricia. A (2005). Perbandingan respon
imunologi empat kombinasi antiretroviral berdasarkan kenaikan jumlah CD4.
Ratnawati DD, 2010 Pengaruh Penyuluhan Terhadap Pengetahuan dan Sikap Remaja
Tentang HIV/AIDS Wilayah Pendukuhan Daleman Gilangharjo Pandak bantul
Yogyakarta
Setiadi.,
(2012). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha ilmu.
Syafrudin,
(2011). Himpunan penyuluhan kesehatan. Jakarata timur
Sugiono, 2009. Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R & D). Bandung: Penerbit
Alfabeta
Wilson L,
2005 AIDS
Untuk Dikenali Bukan Untuk Dihindari,
Jakarta
Zulkifli, (2014). Kewaspadaan universal dalam menangani
penderita HIV/AIDS. Jogjakarta : D-medika ; 2014